Minggu, 07 Juli 2024

Bagian Kelima : Rela

Semakin mendekati hari H semakin komunikasi kita inten. Kita sama-sama tahu apa yang kita lakukan saat ini meskipun hanya chat, atau sekedar telfon hanya akan membuat aku dan dia tersakiti. Kita hanya berusaha mencegah sakitnya datang lebih lambat. Kemarin-kemarin dia pernah bilang "dengan adanya aku saat ini, saat kamu sudah jadi tunangan orang, jangan anggap aku ujian". Awalnya aku berpikir seperti itu, tapi setelah aku pikir apa yang dikatakan olehnya benar. Dia datang kembali bukan sebagai ujian, tapi lebih sebagai pengingat, yang menarik aku dari jalan yang lurus tanpa tempat pemberhentian. Padahal kita perlu belok kanan, perlu gas lebih cepat, atau sekedar berhenti sementara untuk tahu kondisi di sekitar kita. Banyak hal yang buat aku denail tapi mengesampingkan itu dan lama-lama ternyata hal tersebut berdampak pada pemikiran, sikapku terhadap apapun yang ada di sekitarku.

Bagaimanapun yang terjadi aku sama sekali tidak membenarkan, bagaimana perasaan manusia bisa memiliki dua rasa. Sebenernya hal ini buat aku juga sakit, aku nggak mau buat orang yang aku sayang harus ada di posisi ini, meskipun dia bilang nggak keberatan. Siapa yang rela orang yang disayang harus di sembunyikan dari dunia. Semakin dalam semakin bingung, sedangkan pernikahan sudah semakin dekat. Harusnya aku sudah benar-benar fokus dengan satu orang, tapi aku malah memikirkan orang lain. Aku nggak tahu kenapa dia bisa bersikap sampai sejauh ini, yang aku tahu dia sangat menggunakan logikanya ketimbang perasaan, mungkin itu yang membuatku berat. Dia dengan segala yang tersisa buat aku, tetap support dengan kesibukanku dalam persiapan pernikahan.

Tahun 2023 tepatnya waktu hari raya Idul Fitri dia berencana pulang ke Jawa Timur karena tahun sebelumnya dia nggak bisa pulang, dan kita punya rencana untuk bertemu setelah hari raya. Sayangnya rencana itu gagal, dia beritahu aku bahwa hari raya nggak jadi pulang karena faktor yang memang nggak memungkinkan untuk pulang. Padahal aku udah berharap saat itu bisa ketemu, ada hal yang mau aku bicarain. Seandainya waktu itu dia pulang, aku pasti bakal bawa dia ke keluarga, dan sampaikan ke keluargaku bahwa ada laki-laki yang begitu menghargai semua yang aku lakukan, sayang denganku, support dengan segala kegiatanku, laki-laki yang mampu menjadi pemimpin dan memimpinku nanti. Saat itu nyatanya dia tidak pulang, apa itu juga cara Allah menunjukan padaku ? kecewa pasti, tapi aku juga salah seharusnya aku nggak pernah meletakan harapan teralalu tinggi.

Pernah aku tanyakan, jika aku lepas yang sekarang apakah dia bersedia serius, dalam artian mendatangi keluargaku dan memintaku langsung pada orang tuaku. Dia jawab bisa tapi dia mau aku buat nunggu dua tahun, dan nggak mungkin kalo aku harus nunggu lagi dua tahun. Mungkin secara pribadi dan jika aku mendahulukan egoku bisa aja aku ambil keputusan itu, tapi aku nggak bisa egois kan. Bapak ibu gimana, mereka pasti nggak akan setuju, orang tua bakal kepikiran lagi. Saat itu dia bilang bahwa ada pertimbangan jika harus menikah cepat. Satu, kuliahnya belum selesai dan ada beberapa faktor yang menurutnya krusial untuk menikah dan punya keluarga. Sebelumnya juga kita pernah ada percakapan soal bagaimana kehidupan pernikahan yang saat itu hanya sekedar sebuah angan-angan yang nyata beneran hanya angan-angan. Aku bilang bahwa kita bisa mulai lagi dari awal bareng, dan dia bilang "aku udah sejauh ini, dan buat ada disini itu susah banget, masa aku ujung-ujungnya harus mulai lagi dari awal" dan hal itu cukup buat aku tertampar. Dia bener nggak salah, nggak seharusnya aku berpikiran kayak gitu, setelah apa yang udah aku lakuin ke dia, dan dia juga udah berjuang dengan segala yang dia punya buat ada di posisi sekarang ini, seharusnya aku nggak serta merta ngajak dia ke titik awal lagi. Disini aku mulai sedikit demi sedikit mengajarkan pada diri ini bahwa, cukup.

Antara aku dan dia harusnya memang cukup dengan saling support sebagai orang yang pernah saling sayang, meskipun sayang untuknya masih ada sampai saat ini. Buat aku saat itu bener-bener susah, tapi seperti udah nggak punya pilihan lain. Aku cuma berusaha mengikuti alur, kalaupun ini adalah yang terbaik maka mari jalani apa yang ada. Hari H akhirnya datang, sebelum ijab aku sempat kirim pesan, aku beritahu dia kalo sebentar lagi aku ijab. Bagaimana perasaanku, entahlah. Aku sedih tapi juga dalam waktu yang bersamaan bersyukur dengan apa yang terajdi hari itu. Apapun ketetapan Allah aku cuma berusaha mencerna apa yang ada.

Manusia selalu punya pilihan, sekalipun pilihan itu adalah dengan tidak memilih. Memutusakan apa yang membuatmu bimbang dan mengambil segala resiko yang ada di depan bukan hal mudah, tapi kehidupan berputar bukan. Hari ini memang tidak akan sama dengan hari-hari yang lain, sebelum atau nanti. Merelakan juga bukan hanya tentang "oke lupain" nggak segampang saat diucapkan. Relain tanpa harus noleh kebelakng lagi itu nggak gampang. 

Mas, dimanapun kamu, kamu tahu kan aku sayang kamu, mas punya tempat yang beda buat aku. Sehat terus mas, secepatnya lulus. Bawa ibumu datang ke wisudamu nanti, ibumu pasti bangga punya putra yang bisa bertahan, berjuang untuk keluarga bahkan untuk dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagian Kelima : Rela

Semakin mendekati hari H semakin komunikasi kita inten. Kita sama-sama tahu apa yang kita lakukan saat ini meskipun hanya chat, atau sekedar...