Jumat, 31 Maret 2023

Bagian Keempat : Fix The Puzzle

Merusak sesuatu yang sudah pernah dihancurkan nggak akan bisa membuat segalanya jadi sama seperti dulu sekalipun telah diperbaiki berkali-kali. Tahun-tahun yang terlewati dengan membawa bayang kesalahan dimasa lalu nyatanya nggak bisa lupa tentang dia. Harusnya kenangan buruk itu jadi cambuk untuk nggak mengharapakan apapun, meski hanya untuk nyapa. Aku dan dia benar-benar nggak pernah lagi berkomunikasi selama hampir 3 tahun. Meskipun aku kadang masih mengucapakan selamat ulang tahun padanya yang aku kirim melalui inbox facebook, aku tahu ucapan itu hanya akan berakhir dibaca tanpa dibalas. Pikirku saat itu hanya ingin kita menjadi baik kembali, bukan sebagai pasangan tapi teman baik. Terlalu berlebihan memang jika mengingat historiku yang buruk padanya, akan sangat sulit buat dia untuk harus bersikap baik padaku, aku bisa sangat mengerti itu. Namun ada satu waktu dia balas pesanku dengan ucapan terima kasih, tapi hanya sampai disitu nggak lebih. Kemudian kembali hilang, hingga pada suatu hari aku nggak sengaja buka inbox facebook ternyata dia mengirim pesan dan bertanya apakah aku senggang dan bisa bertemu, ternyata hari itu dia pulang, cukup terkejut tapi juga happy tahu dia menghubungiku. Kita saling tukar no hp untuk memudahkan komunikasi, dan akupun mengiyakan pertemuan kita. Tepatnya sepulang aku kerja, kita memiliki janji temu meskipun hanya bisa beberapa jam. 

Malam itu akhirnya kita bertemu setelah sekian tahun nggak pernah betatap muka atau bahkan berkomunikasi via hp ataupun media sosial. Canggung iya, nervous pasti semua perasaan campur aduk hampir nggak bisa banyak bicara, yang aku pikirkan adalah mungkin bukan hari yang tepat tapi, aku nggak punya banyak waktu atau bahkan kesempatan yang lain seperti hari ini. Kita bertemu di tempat biasa kita bertemu dulu di Cakwang Semeru. Lebih banyak diam, dan sesekali hanya ngobrol mengenai kabar masing-masing, waktu semakin malam kita memutuskan untuk segera pulang. Tepat di depan gang rumahnya ada kursi panjang awalnya nggak ada niat untuk lebih lama berada disana, tapi melihatnya buat aku berat. Kuputuskan buat berhenti sebentar, duduk di kursi panjang itu dia tepat ada disebelahku tanpa ada suara yang keluar dari mulut kita. Entah dari mana datangnya kita sudah saling menggenggam. Pikiran udah nggak pada tempatnya saat itu cuma bisa diem, dan membiarkan malam itu terjadi begitu aja. Dia kembali menanyakan apakah kita bisa sekali lagi bertemu. Awalnya aku bingung, ragu apa aku harus iyakan ajakannya karena aku tahu dia disini hanya sebentar, dengan banyak pertimbangan memutuskan untuk mengiyakan ajakannya, karena aku pikir ini akan jadi pertemuan yang terakhir, dan membuat hubungan kita kembali baik sebagai orang yang pernah saling kenal. Besoknya kita benar ketemu lagi di sebuah cafe, di daerah perhutani. Seperti biasa kita hanya ngobrol mengenai hal-hal ringan bercerita lagi tentang apapun, waktu akhirnya buat kita harus mengakhiri pertemuan itu meskipun aku merasa masih ingin menceritakan banyak hal. Kita keluar cafe, jalan menuju parkiran tiba-tiba dia genggam tanganku. Nggak banyak kata yang diucapakan, diparkiran itu kita hanya saling melihat dan tersenyum. Masing-masing dari kita tahu apa yang sebenernya ada dipikiran, tanpa diucapkanpun kita juga tahu bahwa nggak bisa mengharapakan hal yang lebih dari sekedar pertemuan singkat.

Setelah dua hari itu, kita kembali lost contact karena nomorku bermasalah, aku nggak pernah menyimpan nomornya dalam note atau contact google, juga nggak berusaha untuk menanyakan melalui media sosial. Suatu hari seperti biasa aku selalu mengucapkan ulang tahun padanya melalui inbox facebook, aku pikir ini hanya akan berakhir pada ucapan terima kasih, tapi hari itu agak beda. Percakapan menjadi panjang bahkan untuk hari berikutnya, aku lupa bagaimana detail percakapan kita saat itu hingga akhirnya kembali bertukar nomor hp. Percakapan di inbox berlanjut di aplikasi pesan, dari sana kita mulai terhubung kembali secara komunikasi. Menjadi agak sedikit berbeda karena kita seperti sama-sama memberi batas dalam komunikasi itu. Aku nggak selalu menghubungi begitupun dia sebaliknya. Sesekali mungkin chat untuk sekedar mengatakan bahwa aku rindu, atau memberi reaksi pada story wa nya meskipun dia balas pesanku singkat tak jarang hanya dibaca. Terlihat menyedihkan tapi itu reaksi wajar sih, harusnya aku juga nggak kayak gitu. Lama kelamaan aku berpikir mungkin harusnya aku nggak lagi chat dia dengan isi teks seperti itu mengingat responnya juga biasa aja dan aku juga punya pasangan. Lama setelah itu benar aku udah nggak pernah ngehubungi lagi. Masih inget banget hari raya di tahun 2021 dia mengirimkan sebuah daftar mata kuliah. Awalnya aku nggak ngerti maksud foto itu apa, kemudian menjelaskan bahwa dia mulai melanjutkan pendidikan ketingkat perguruan tinggi, mendengar kabar baik itu aku jadi bersyukur dan happy banget. Doaku terkabul ternyata, aku pernah minta pada pemilik alam semesta bahwa aku ingin dia mendapatkan kebahagiaan untuk hidupnya, apapun itu. Mendengar kabar baik itu aku merasa sedikit lega ternyata hidupnya lebih baik sekarang.

Pesan chat yang berakhir ditelepon dengan durasi yang nggak sebentar, disana dia cerita banyak hal tentang perkuliahannya. Mengambil jurusan yang hampir sama denganku masih dibidang broadcast atau komunikasi, semenjak itu dia jadi sering telepon tiba-tiba hanya untuk sharing mengenai tugas kuliahnya. Singkat cerita aku kerja di Surabaya, satu malam dia telepon tiba-tiba tanpa ada briging sebelumnya sama seperti biasa aku yang udah tahu maksud dari telepon itu langsung menanyakan "tugas apa lagi sekarang ?" ternyata bukan tugas yang ditanyakan, dia hanya ingin mengobrol. Percakapan kita emang nggak pernah singkat selama hampir tiga jam kita ngobrol ditelepon. Aku nggak tahu kenapa mulai malam itu dia jadi lumayan sering telepon tanpa membahas tugas kuliah. Pada malam berikutnya kita ngobrol lagi di telepon, obrolan beralih tentang bagaimana hubungan kita dulu dan bagimana itu semua akhirnya selesai, kita saling terbuka dengan cerita yang dulu hingga sekarang. Apa yang nggak aku tahu atau apa yang nggak dia tahu kita ceritakan semua saat itu. Mungkin dulu  hubungan kita memang nggak lama, bisa jadi karena itu juga kita belum mengenal sampai begitu detailnya. Waktu masih bersama dengannya dulu aku selalu membatasi diri untuk nggak menanyakan hal-hal yang menurutku sensitif buat dia, tapi malam itu aku menanyakan semua tentangnya, bagaimana dia dulu, latar  belakangnya, hubungannya dengan keluarga. Disana dia ceritakan sebagian, meskipun nggak semua tapi aku merasa kita jauh lebih terbuka dibanding dulu waktu masih bersama.

Obrolan yang semakin nyaman buatku akhirnya bercerita tentang bagaimana aku sekarang, bahwa aku sudah bertunangan dengan pasanganku. Niat awal aku nggak akan cerita sampai aku benar-benar menikah, tapi akhirnya aku ceritakan juga padanya. Sempat hening sebentar saat itu kemudian dia memberikan selamat. Anehnya adalah setelah obrolan panjang malam itu kita jadi makin intens komunikasi, bukan hanya tentang komunikasinya tapi, konteks obrolan yang jadi berbeda nggak kayak obrolan-obrolan yang dulu. Mungkin karena kita sudah saling terbuka, umur yang dewasa jadi terkadang pembahasan obrolan jadi makin deep, kita nggak pernah merencanakan apapun tentang apa yang terjadi saat itu, semua hanya mengalir gitu aja, diterima gitu aja, di jalani gitu aja. Obrolan yang mengarah pada hal sensitif terkait perasaan kadang bikin canggung tapi masih berusaha memberi batasan pada hal itu. Kemudian lama-lama pembahasan mengenai perasaan nggak bisa dihindari, kita mungkin mulai merasakan sesuatu dari komunikasi yang hanya terjadi via telepon. Aku pernah bilang bahwa sekalipun aku ingin kembali padanya tolong jangan pernah beri ruang itu buat aku, masih ingat bagaimana responnya, dan dia bilang "tenang, aku yang akan rem" dia mengatakan bahwa sebaiknya aku tetap dengan pasanganku, sebuah nasehat yang realistis dan juga masuk akal, sedikit lebih tenang dengernya meskipun tetep was was. Topik obrolan belum beralih dia menambahkan "sekalipun kamu pengen balik aku mau kamu yang berusaha, karena dulu aku udah pernah ngelakuin itu buat kamu tapi kamu pilih dia" aku yang mendengar hal itu semakin yakin bahwa kita emang nggak akan bisa buat balik lagi. Mungkin dia juga ingin tahu, maka dari itu dia bertanya kenapa aku mengatakan hal-hal semacam itu. Aku hanya berusaha untuk nggak keluar jalur, nggak mau mengulang kesalahan kalau akhirnya cuma akan nyakitin dia lagi. Jika di umpamakan sekalipun kita bisa kembali menjalin hubungan akan sangat berat buat aku dan dia. Kepercayaannya padaku nggak akan sama kayak dulu, dan aku juga nggak punya "tenaga" lagi buat meyakinkan atau mulai semuanya dari awal. Dia yang seolah tahu isi pikiran ini mengatakan bahwa dia sudah berdamai dengan apa yang terjadi dulu, dan dia mau kalau aku juga harus bisa berdamai dengan diri sendiri, memaafkan diri sendiri tentang kejadian yang dulu. Ya dia bener, mungkin itu masalahnya, bisa jadi itu yang buat aku nggak pernah lupa soal dia. Aku berusaha mencerna kata-kata itu dan memaafkan diri ini untuk apa yang pernah terjadi. 

Obrolan yang deep semakin sering jadi topik dan hal itu membuat kita merasa semakin dekat atau semakin nyambung. Sampai pada titik dimana akhirnya kita saling menggunakan panggilan yang dulu pernah kita pakai saat masih bersama, ini jadi makin kemana-mana dan batasan yang dibikin kemarin lama-lama juga berkurang. Aku mulai menanyakan tentang hubungan kita saat ini artinya apa atau paling tidak apa namanya tapi kita sama-sama nggak tahu. Kita masih berada ditopik yang membingungkan ini, kemudian aku bertanya  lagi, yang sebenernya dia cari dari komunikasi ini apa, dia bilang "aku mau nemenin kamu aja, sampe kamu fix nikah dan sampe aku nemu yang aku mau" aku menanyakan tentang resiko dari keputusannya untuk menemaniku dan dia menyadari bagaimana konsekuensi serta apa yang bisa aku lakukan terhadapnya. Kadang aku lupa aku sedang berkomunikasi dengan siapa, orang yang memiliki pemikiran dewasa, dan bisa mengetahui segala hal tentang aku tanpa perlu kujelaskan bagaimana detailnya. Aku bahkan abadikan percakapan itu dengan mengcapture teks obrolan. Isi tulisan nyata tapi begitu menyakitkan karena aku nggak mau dia harus seperti itu untukku tapi disisi lain aku menginginkan dia untuk tetap stay. Kemudian dia memberiku kesempatan untuk aku bisa mengatakan yang sebenarnya aku rasain dan apa yang aku mau dari dia, akhirnya aku sampaikan juga bahwa aku ingin dia ada buat aku sampai waktu nunjukin kalau emang waktunya kita harus bener-bener berhenti berkomunikasi. Hubungan ini jadi rumit tapi kita sama-sama sepakat untuk ngejalani ini meskipun kita tahu ini nggak akan pernah work untuk sebuah tujuan akhir.

Hubungan yang nggak ada nama ini rasanya hampir sama seperti hubungan sesungguhnya, banyak hal yang berbeda dari kita yang dulu, dia lebih posesif untuk hubungan jarak jauh dan aku nggak mau memberikan kejelasan tentang apa yang aku lakukan tiap harinya. Hal- hal seperti itu yang membuat kita sering berselisih paham apa lagi untuk hubungan yang nggak pumya tujuan. Aku merasa dia berubah dia juga merasa aku berubah, tapi kita sama-sama berusaha saling ngerti dengan kondisi kita saat itu, mencari solusi dari setiap pertengkaran yang muncul, dan semua hanya kembali baik-baik lagi. Sampai pada titik dimana aku ngerasa udah nggak sanggup dengan cara komunikasinya, aku tahu tujuannya untukku baik tapi buatku masih sulit, aku putuskan untuk berhenti dari hubungan yang rumit itu, berselang sepuluh hari aku menyadari kalau aku masih nggak bisa tanpa dia. Akhirnya aku kembali menguhunginya kemudian kita kembali berbaikan, tapi lagi-lagi permasalahan cara berkomunikasi menjadi topik, aku yang nggak terima dengan caranya yang seperti itu membalas dengan mengubah foto profil wa dengan foto pasanganku, otomatis hal itu buat dia jengkel dan aku juga kekeh nggak mau merubah meskipun dia minta karena hal itu dia langsung block wa ku. Reaksi yang diluar dari perkiraan, aku biarkan semuanya terjadi gitu aja, tapi buat aku mikir. Kenapa aku harus bertindak seperti itu hanya untuk membuat dia jengkel, hanya untuk membalasnya kenapa aku harus menggunakan pasanganku, ada apa sebenarnya denganku. Kemudian aku berusaha menguhubunginya, singkat cerita dia buka blokiran wa ku dan kita mulai membicarakan permasalahan foto profil dan malam itu di telepon kita debat habis-habisan yang berakhir dengan aku mengalah. Saat ditengah obrolan, aku menyadari satu hal atas sikapku terhadapnya tapi aku denial dan menyimpannya sendiri. 

Apapun yang terjadi pada cerita diatas aku tahu harusnya nggak seperti itu, tapi soal dia, aku nggak bisa. Bertahun-tahun bahkan tanpa komunikasi dengannya ternyata aku nggak pernah lupain dia, tanpa sadar kadang aku mengingat semua tentang dia padahal nggak di rencanain. Misalnya, ada tulisan orang di media sosial yang mengingatkan tentang dia, kemudian denger lagu yang ternyata relate sama dia buatku ingat tentang dia. Padahal udah bertahun-tahun tapi kenapa hal-hal semacam itu masih aja muncul dan lagi-lagi membawa dia kembali keingatan tetang dia. Aku selalu berusaha menahan diri buat nggak sentuh hidupnya, tapi masih aja sulit. Aku masih mencari kabar tentang dia, bagaimana keadaannya, aku juga tahu kok dia bakal baik-baik aja meskipun aku nggak disana.





Senin, 13 Maret 2023

Bagian Ketiga : Official Romance

Manusia memang unik dengan segala pemikiran, perasaan yang mereka miliki, dan semesta sebagai saksi sekaligus penentu alur kisah. Perasaan yang masih sama saat dan setelah dia mengetahui kebenaran yang aku tunjukan. Banyak ketakutan yang muncul saat aku akhirnya ceritakan semuanya, tapi apa yang aku pikirkan ternyata nggak seperti kenyataannya. Setelah aku cerita panjang lebar, dia memberikan respon yang baik bahkan diluar dari ekspektasi. Sejak saat itu pembahasan di chat berubah, dan lambat laun perasaannya juga berubah terhadapku, sampai pada akhirnya dia menyampaikan apa yang dia rasakan dan menginginkan aku bisa bersamanya dalam satu hubungan yang lebih dari sahabat, lebih dari kakak adik, seperti hubungan antara laki-laki dan perempuan. Selama kita berkomunikasi aku juga bisa merasakan kalau pada akhirnya dia juga memiliki perasaan padaku, tapi aku hanya berusaha untuk nggak berlebihan menanggapi apa yang aku rasakan. Akhirnya dia katakan juga, dan aku antara siap dan tidak, antara percaya dan tidak. Aku tahu bagaimana dia dulu pada temanku, dan itu membuatku nggak yakin padanya saat itu. Aku mungkin senang mendengar apa yang dia ungkapkan, tapi aku belum bisa mencerna semuanya dengan begitu cepat. Aku minta waktu untuk memikirkan hal itu, bukan aku tidak bersyukur tapi perasaan ini masih takut. Aku hanya ingin memastikan bahwa perasaannya padaku memang pure karena itu yang dia rasakan, bukan karna pelarian. Aku coba yakinkan diriku sendiri bahwa ini semua nyata, orang yang selama ini aku suka ada disampingku dan memberikan hatinya padaku. Aku beranikan diri untuk meyakini bahwa apa yang dia rasakan juga sama dengan apa yang aku rasakan, tanpa melihat kebelakang, akupun mengiyakan, dan kita officialy jadian.

Masih nggak nyangka kalau semua ini nyata, bagaimana perasaanmu ketika orang yang selama ini kamu cari, akhirnya bisa kamu temui, berkomunikasi denganya, bisa lebih dekat, dan pada akhirnya kalian memiliki hubungan yang spesial. Buatku ini sulit dipercaya, berkali-kali bertanya pada diri sendiri "apa ini bener, apa ini nyata?" seperti doa yang langsung terkabul saat itu juga. Semua begitu manis ketika dua orang jatuh cinta dan bersama. Masih inget banget waktu pertama kali jalan bareng, kita berdua itu sama-sama suka pake sepatu model converse kan, dia pake warna merah aku pake warna navy. Couple banget udah happy kita, sayangnya saat pertama kali jalan bareng malah kena tilang, apes banget pokoknya. Tepatnya di daerah perempatan lampu merah Pasar Tanjung, pak polisinya nggak support banget deh nggak tahu orang baru jadian mau kencan juga eh ketilang, tapi langusng diberesin sama dia. Menjalani hubungan dengan cara yang berbeda, dewasa, dengan orang yang memiliki pandangan yang beda tentang menyikapi segala sesuatu, kita semua tahu bahwa setiap hubungan pasti tidak selalu berjalan indah selamanya. Kita juga mengalami hal itu terpaut 6 tahun, aku masih kuliah dia bekerja. Kemudian tiba-tiba kabar buruk datang, dia bilang bahwa dia harus bekerja di luar kota, memang nggak jauh cuma berjarak sekitar 3 jam perjalanan. Aku yang memiliki riwayat buruk tentang LDR tentu punya kekhawatiran lebih. Aku coba sampaikan apa yang menjadi kekhawatiranku padanya, ketika akhirnya kita harus jalani hubungan jarak jauh, tapi dia juga coba yakinin aku kalau kita bisa ngejalani hubungan LDR, aku coba percaya dengannya dan diriku sendiri. Setelah dijalani sepertinya aku baik-baik saja dengan LDR, dia yang selalu memberikan treatment yang baik, sehingga kekhawtiranku mulai turun. Kita ketemu bisa dua atau tiga kali dalam satu bulan. Untuk pertama kalinya, dan mungkin dia satu-satunya lelaki yang aku ceritakan pada ibuku. Aku beri tahu siapa namanya, dimana tempat tinggalnya, dimana dia bekerja, serta hubungan seperti apa yang aku dan dia sedang jalani, alhamdulillah respon ibu baik. Semakin aku yakin dengan hubungan yang aku jalani saat itu. 

LDR itu bukan hal yang mudah, treatmen yang diberikan padaku cukup membuatku yakin bahwa aku bisa jalani hubungan itu. Pagi chat untuk sekedar pamit berangkat kerja, siang waktu jam istirahat kalau nggak repot dia pasti hubungi, sekitar jam 5 sore pasti telepon sebentar untuk memberi kabar bahwa dia sudah pulang dari kerja, sekita jam 7 malam dia akan telepon lagi sampai larut malam, begitu seterusnya berulang, dan hampir tidak pernah berubah. Pada akhir pekan, biasanya aku jemput dia di daerah Pakusari, malamnya dia sampe, aku jemput langsung keluar bareng untuk makan malem. Kebiasaan ini juga nggak pernah berubah sama sekali, dan anehnya aku nggak pernah ngerasa bosen. Setiap kali ketemu kita hanya ngobrol panjang lebar, cerita dari A-Z padahal setiap harinya kalau lagi jauh kita juga ngobrol panjang lebar di telepon berjam-jam, tapi setelah ketemupun obrolan nggak ada habisnya. Momen-momen yang kita habiskan bersama nggak akan pernah cukup karena terbatasnya waktu, setiap pertemuan selalu kita buat benar-benar berkualitas. Masih ada di ingatan, bagaimana hal-hal kecil bisa begitu berarti saat itu. Ketika sedang bersama nggak ada yang boleh pegang hp, baru aku pegang belum buka kunci dia udah protes, itu juga yang buat kita cuma punya satu foto selfie bersama. Kita hampir nggak punya foto bareng, nggak pernah capture kebersamaan kita. Waktu yang kita punya benar-benar hanya untuk kita berdua. Banyak hal tentang dia, dan hal-hal baik yang dia berikan padaku. Aku tahu dia perokok, tapi selama dia didekatku sekalipun dia nggak pernah bakar rokok, padahal aku nggak pernah ngelarang. Pernah satu waktu ketika makan dia mengingatkan, katanya "jangan pernah sisakan satu butirpun nasi yang kamu makan". Dia juga pernah bilang "kamu jangan sering ghibah, kalau mau ghibah sama aku aja" ketawalah kita bareng karena itu. Semua baik-baik aja, sampai pada akhirnya salah satu dari kita mulai goyah.

Ini bukan soal dia, tapi aku yang mulai merasa bahwa treatment dan pertemuan-pertemuan singkat kita mulai tidak ada artinya, ketika dia (raganya) tidak bisa selalu ada disampingku. Semua karena yang terjadi di KKN, mungkin ini akan terdengar omong kosong, dan klise tapi memang adanya seperti ini, juga tidak ada pembenaran atas apa yang udah aku lakuin. Aku sebagai mahasiswa punya kewajiban untuk mengikuti kegiatan KNN di suatu desa yang kebetulan desa itu susah sinyal, komunikasi kita mulai sulit, dan di tempat KKN aku mulai dekat dengan salah satu anggota, dari sana semua dimulai. Aku selalu cerita apapun ke dia, termasuk cerita beberapa kali aku pulang diantar oleh teman KKN ku, mungkin dia merasa itu sudah tidak wajar, dan tidak suka dengan hal itu. Semakin kesini aku semakin merasa bahwa tidak adanya dia disampingku buat aku merasa kurang, sedangkan disini ada orang yang bisa ada buat aku kapanpun saat aku butuh. Kebohong satu lalu muncul kebohongan yang lain, aku tahu harusnya aku nggak kayak gini. Dulu aku pernah komitmen padanya, aku bilang bahwa akan selalu terbuka dengan apapun yang berhubungan dengan relationship kita meskipun kemungkinan terburuk adanya orang ketiga. Aku berusaha memastikan lagi, perasaanku buat dia masih ada atau bener-bener udah hilang. Kita akhirnya ketemu keluar bareng kayak biasanya, di atas sepeda motor, saat melewati jalan Kartini dekat Polres, untuk pertama kalinya aku lingkarkan tanganku pada badannya. Dia mungkin agak terkejut, karena aku tidak pernah seperti itu sebelumnya, tapi dia sambut itu dengan memegangi tanganku, lama. Dia terus pegang tanganku, yang niatnya anter aku pulang malah kita keliling lagi. Apa yang aku rasakan saat itu ? perasaan yang tidak sama seperti dulu, dari situ aku memutuskan untuk sebaiknya aku harus jujur dan segera mengakhiri hubungan dengan dia. Singkat cerita kita ketemu lagi, malem itu aku beranikan diri untuk mengatakan semuanya.

Aku masih ingat betul, malam itu di jalan Karimata, kita hanya bertemu sebentar karena dia ada acara dengan teman-temannya. Sebelum dia pergi, aku tahan dia dan mulai menceritakan semua kebohongan yang pernah aku lakukan. Aku bisa lihat kemarahan, kekecewaan di wajahnya. Aku mulai merasa takut, nggak tahu apalagi yang harus di lakukan, dia nggak banyak bicara, seperti sudah tahu apa maksudku menyampaikan semua itu, dengan penuh kemarahan dia bilang "yaudah ini kan yang kamu mau, kita selesai" lalu pergi. Aku nggak tahu kalau ternyata sakit mendengarkan hal itu dari dia. Aku pikir saat itu akan ada perbincangan yang lebih untuk memperbaiki atau apapun yang mungkin bisa merubah keadaan kita. Dia pergi, aku masih diam ditempat kita ngobrol, cuma bisa lihat dia dari kejauhan jalan semakin jauh. Nggak bisa ditahan lagi akhirnya keluar juga air mata. Semua yang terjadi malem itu memang salahku, ini bukan soal siapa yang ada dan tidak ada, bukan. Ini soal menjaga hati hanya untuk satu orang tanpa membaginya.

Aku nggak tahu akan sesakit itu rasanya ketika aku berusaha jujur dengan perasaanku. Selingkuh bukan hal yang aku rencanakan, aku juga nggak pernah tahu kalau pada akhirnya ngambil jalan yang kayak gini. Ketika semua selesai aku juga masih mempertanyakan, apakah harus seperti ini, atau aku harusnya bisa nggak kayak gini. Aku yang bangun pondasinya, aku sendiri yang hancurin semuanya, aku berusaha buat dia ada, tapi aku sendiri yang buat dia nggak ada lagi di cerita ini.


Bagian Kelima : Rela

Semakin mendekati hari H semakin komunikasi kita inten. Kita sama-sama tahu apa yang kita lakukan saat ini meskipun hanya chat, atau sekedar...