Manusia memang unik dengan segala pemikiran, perasaan yang mereka miliki, dan semesta sebagai saksi sekaligus penentu alur kisah. Perasaan yang masih sama saat dan setelah dia mengetahui kebenaran yang aku tunjukan. Banyak ketakutan yang muncul saat aku akhirnya ceritakan semuanya, tapi apa yang aku pikirkan ternyata nggak seperti kenyataannya. Setelah aku cerita panjang lebar, dia memberikan respon yang baik bahkan diluar dari ekspektasi. Sejak saat itu pembahasan di chat berubah, dan lambat laun perasaannya juga berubah terhadapku, sampai pada akhirnya dia menyampaikan apa yang dia rasakan dan menginginkan aku bisa bersamanya dalam satu hubungan yang lebih dari sahabat, lebih dari kakak adik, seperti hubungan antara laki-laki dan perempuan. Selama kita berkomunikasi aku juga bisa merasakan kalau pada akhirnya dia juga memiliki perasaan padaku, tapi aku hanya berusaha untuk nggak berlebihan menanggapi apa yang aku rasakan. Akhirnya dia katakan juga, dan aku antara siap dan tidak, antara percaya dan tidak. Aku tahu bagaimana dia dulu pada temanku, dan itu membuatku nggak yakin padanya saat itu. Aku mungkin senang mendengar apa yang dia ungkapkan, tapi aku belum bisa mencerna semuanya dengan begitu cepat. Aku minta waktu untuk memikirkan hal itu, bukan aku tidak bersyukur tapi perasaan ini masih takut. Aku hanya ingin memastikan bahwa perasaannya padaku memang pure karena itu yang dia rasakan, bukan karna pelarian. Aku coba yakinkan diriku sendiri bahwa ini semua nyata, orang yang selama ini aku suka ada disampingku dan memberikan hatinya padaku. Aku beranikan diri untuk meyakini bahwa apa yang dia rasakan juga sama dengan apa yang aku rasakan, tanpa melihat kebelakang, akupun mengiyakan, dan kita officialy jadian.
Masih nggak nyangka kalau semua ini nyata, bagaimana perasaanmu ketika orang yang selama ini kamu cari, akhirnya bisa kamu temui, berkomunikasi denganya, bisa lebih dekat, dan pada akhirnya kalian memiliki hubungan yang spesial. Buatku ini sulit dipercaya, berkali-kali bertanya pada diri sendiri "apa ini bener, apa ini nyata?" seperti doa yang langsung terkabul saat itu juga. Semua begitu manis ketika dua orang jatuh cinta dan bersama. Masih inget banget waktu pertama kali jalan bareng, kita berdua itu sama-sama suka pake sepatu model converse kan, dia pake warna merah aku pake warna navy. Couple banget udah happy kita, sayangnya saat pertama kali jalan bareng malah kena tilang, apes banget pokoknya. Tepatnya di daerah perempatan lampu merah Pasar Tanjung, pak polisinya nggak support banget deh nggak tahu orang baru jadian mau kencan juga eh ketilang, tapi langusng diberesin sama dia. Menjalani hubungan dengan cara yang berbeda, dewasa, dengan orang yang memiliki pandangan yang beda tentang menyikapi segala sesuatu, kita semua tahu bahwa setiap hubungan pasti tidak selalu berjalan indah selamanya. Kita juga mengalami hal itu terpaut 6 tahun, aku masih kuliah dia bekerja. Kemudian tiba-tiba kabar buruk datang, dia bilang bahwa dia harus bekerja di luar kota, memang nggak jauh cuma berjarak sekitar 3 jam perjalanan. Aku yang memiliki riwayat buruk tentang LDR tentu punya kekhawatiran lebih. Aku coba sampaikan apa yang menjadi kekhawatiranku padanya, ketika akhirnya kita harus jalani hubungan jarak jauh, tapi dia juga coba yakinin aku kalau kita bisa ngejalani hubungan LDR, aku coba percaya dengannya dan diriku sendiri. Setelah dijalani sepertinya aku baik-baik saja dengan LDR, dia yang selalu memberikan treatment yang baik, sehingga kekhawtiranku mulai turun. Kita ketemu bisa dua atau tiga kali dalam satu bulan. Untuk pertama kalinya, dan mungkin dia satu-satunya lelaki yang aku ceritakan pada ibuku. Aku beri tahu siapa namanya, dimana tempat tinggalnya, dimana dia bekerja, serta hubungan seperti apa yang aku dan dia sedang jalani, alhamdulillah respon ibu baik. Semakin aku yakin dengan hubungan yang aku jalani saat itu.
LDR itu bukan hal yang mudah, treatmen yang diberikan padaku cukup membuatku yakin bahwa aku bisa jalani hubungan itu. Pagi chat untuk sekedar pamit berangkat kerja, siang waktu jam istirahat kalau nggak repot dia pasti hubungi, sekitar jam 5 sore pasti telepon sebentar untuk memberi kabar bahwa dia sudah pulang dari kerja, sekita jam 7 malam dia akan telepon lagi sampai larut malam, begitu seterusnya berulang, dan hampir tidak pernah berubah. Pada akhir pekan, biasanya aku jemput dia di daerah Pakusari, malamnya dia sampe, aku jemput langsung keluar bareng untuk makan malem. Kebiasaan ini juga nggak pernah berubah sama sekali, dan anehnya aku nggak pernah ngerasa bosen. Setiap kali ketemu kita hanya ngobrol panjang lebar, cerita dari A-Z padahal setiap harinya kalau lagi jauh kita juga ngobrol panjang lebar di telepon berjam-jam, tapi setelah ketemupun obrolan nggak ada habisnya. Momen-momen yang kita habiskan bersama nggak akan pernah cukup karena terbatasnya waktu, setiap pertemuan selalu kita buat benar-benar berkualitas. Masih ada di ingatan, bagaimana hal-hal kecil bisa begitu berarti saat itu. Ketika sedang bersama nggak ada yang boleh pegang hp, baru aku pegang belum buka kunci dia udah protes, itu juga yang buat kita cuma punya satu foto selfie bersama. Kita hampir nggak punya foto bareng, nggak pernah capture kebersamaan kita. Waktu yang kita punya benar-benar hanya untuk kita berdua. Banyak hal tentang dia, dan hal-hal baik yang dia berikan padaku. Aku tahu dia perokok, tapi selama dia didekatku sekalipun dia nggak pernah bakar rokok, padahal aku nggak pernah ngelarang. Pernah satu waktu ketika makan dia mengingatkan, katanya "jangan pernah sisakan satu butirpun nasi yang kamu makan". Dia juga pernah bilang "kamu jangan sering ghibah, kalau mau ghibah sama aku aja" ketawalah kita bareng karena itu. Semua baik-baik aja, sampai pada akhirnya salah satu dari kita mulai goyah.
Ini bukan soal dia, tapi aku yang mulai merasa bahwa treatment dan pertemuan-pertemuan singkat kita mulai tidak ada artinya, ketika dia (raganya) tidak bisa selalu ada disampingku. Semua karena yang terjadi di KKN, mungkin ini akan terdengar omong kosong, dan klise tapi memang adanya seperti ini, juga tidak ada pembenaran atas apa yang udah aku lakuin. Aku sebagai mahasiswa punya kewajiban untuk mengikuti kegiatan KNN di suatu desa yang kebetulan desa itu susah sinyal, komunikasi kita mulai sulit, dan di tempat KKN aku mulai dekat dengan salah satu anggota, dari sana semua dimulai. Aku selalu cerita apapun ke dia, termasuk cerita beberapa kali aku pulang diantar oleh teman KKN ku, mungkin dia merasa itu sudah tidak wajar, dan tidak suka dengan hal itu. Semakin kesini aku semakin merasa bahwa tidak adanya dia disampingku buat aku merasa kurang, sedangkan disini ada orang yang bisa ada buat aku kapanpun saat aku butuh. Kebohong satu lalu muncul kebohongan yang lain, aku tahu harusnya aku nggak kayak gini. Dulu aku pernah komitmen padanya, aku bilang bahwa akan selalu terbuka dengan apapun yang berhubungan dengan relationship kita meskipun kemungkinan terburuk adanya orang ketiga. Aku berusaha memastikan lagi, perasaanku buat dia masih ada atau bener-bener udah hilang. Kita akhirnya ketemu keluar bareng kayak biasanya, di atas sepeda motor, saat melewati jalan Kartini dekat Polres, untuk pertama kalinya aku lingkarkan tanganku pada badannya. Dia mungkin agak terkejut, karena aku tidak pernah seperti itu sebelumnya, tapi dia sambut itu dengan memegangi tanganku, lama. Dia terus pegang tanganku, yang niatnya anter aku pulang malah kita keliling lagi. Apa yang aku rasakan saat itu ? perasaan yang tidak sama seperti dulu, dari situ aku memutuskan untuk sebaiknya aku harus jujur dan segera mengakhiri hubungan dengan dia. Singkat cerita kita ketemu lagi, malem itu aku beranikan diri untuk mengatakan semuanya.
Aku masih ingat betul, malam itu di jalan Karimata, kita hanya bertemu sebentar karena dia ada acara dengan teman-temannya. Sebelum dia pergi, aku tahan dia dan mulai menceritakan semua kebohongan yang pernah aku lakukan. Aku bisa lihat kemarahan, kekecewaan di wajahnya. Aku mulai merasa takut, nggak tahu apalagi yang harus di lakukan, dia nggak banyak bicara, seperti sudah tahu apa maksudku menyampaikan semua itu, dengan penuh kemarahan dia bilang "yaudah ini kan yang kamu mau, kita selesai" lalu pergi. Aku nggak tahu kalau ternyata sakit mendengarkan hal itu dari dia. Aku pikir saat itu akan ada perbincangan yang lebih untuk memperbaiki atau apapun yang mungkin bisa merubah keadaan kita. Dia pergi, aku masih diam ditempat kita ngobrol, cuma bisa lihat dia dari kejauhan jalan semakin jauh. Nggak bisa ditahan lagi akhirnya keluar juga air mata. Semua yang terjadi malem itu memang salahku, ini bukan soal siapa yang ada dan tidak ada, bukan. Ini soal menjaga hati hanya untuk satu orang tanpa membaginya.
Aku nggak tahu akan sesakit itu rasanya ketika aku berusaha jujur dengan perasaanku. Selingkuh bukan hal yang aku rencanakan, aku juga nggak pernah tahu kalau pada akhirnya ngambil jalan yang kayak gini. Ketika semua selesai aku juga masih mempertanyakan, apakah harus seperti ini, atau aku harusnya bisa nggak kayak gini. Aku yang bangun pondasinya, aku sendiri yang hancurin semuanya, aku berusaha buat dia ada, tapi aku sendiri yang buat dia nggak ada lagi di cerita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar