Senin, 06 Februari 2023

Bagian Pertama : First Sight and Crush

Bagaimana caramu menjelaskan tentang seseorang yang begitu istimewa. Seperti apa rasanya pandangan pertama ? lalu pertanyaan apalagi berikutnya. Aku dengan berbagai pertanyaan dan dia yang memiliki semua jawaban. Sebenernya aku tahu harus mulai dari mana tapi ternyata untuk kembali ke massa itu cukup sulit. Ini bukan hanya soal rasa sakit yang aku beri untuk dia tapi rasa sakit karena menyakitinya. Mungkin agak aneh, ketika merasa sakit tapi tetap menyakiti.

Bulan Ramadhan sore itu yang bingung karena mencari toilet kosong, berakhir di lapangan basket karena seorang kenalan kakak kelas yang juga teman kakakku, kita mengobrol sambil aku memantau dari jauh kira-kira toilet mana yang sepi. Aku sebagai murid di kelas X saat itu memiliki kewajiban untuk mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan di sekolah kurang lebih selama tujuh hari, karena sertifikat dari kegiatan tersebut menjadi salah satu syarat lulus sekolah. Sore itu selagi mengobrol, aku lihat ada beberapa orang berkumpul membicarakan sesuatu. Aku sempat dengar cerita tentang mereka, satu kelompok yang cukup terkenal di kalangan siswa, guru, apalagi di kalangan anak-anak ekstrakurikuler. Memang yang aku tahu orang-orang seperti mereka bisa datang kesekolah untuk membantu kegiatan disekolah. Kita biasa menyebutnya purna, tapi kelompok mereka isinya bukan cuma purna tapi juga ada orang-orang yang bahkan masih aktif di ekstrakurikuler, mereka menyebut diri mereka dengan IBLO (Ikatan Bocah Lali Omah). Tunggu dulu ini bukan cerita tentang mereka, tapi ada salah satu dari mereka yang berhasil mengalihkan perhatian dari antusiasku memantau toilet. Saat kulihat gerombolan itu ada satu laki-laki dengan bentuk wajah yang kecil, warna bola matanya tampak berbeda meskipun aku melihatnya hanya dari kejauhan, raut wajah yang terlihat dingin tapi saat tersenyum dia menunjukan kesederhanaan dan itu membuatku ikut tersenyum, dalam hati "siapa dia ?". Tiba-tiba tersadar saat teman disebelahku mulai menariku untuk segera beranjak karena waktu terbatas. Aku harus segera mengikuti kegiatan selanjutnya, tapi saat itu pandanganku masih melihat kearahnya, aku belum tahu siapa dia, atau bahkan siapa namanya. Aku juga belum pernah dengar sosok tentang dia sebelumnya dikalangan teman-teman ekstra, saat itu hanya sebatas tahu wajahnya dan aku berusaha menyimpan memori tentang bagaimana bentuk wajahnya, jika suatu hari nanti dipertemukan lagi aku bisa tahu bahwa itu dia. Seperti itukah jatuh cinta pada pandangan pertama? entalah terlalu awal untuk mengatakan bahwa itu adalah jatuh cinta, tapi hari itu aku merasa banyak bunga dikepalaku.

Setelah hari itu aku tidak pernah lagi melihatnya, bahkan setelah naik ke kelas XI aku masih tidak tahu siapa dia. Biasanya jika ada diklat ekstra para purna datang untuk support kegiatan, misalnya hari dimana aku diklat untuk Organisasi Intra Sekolah. Lihat para purna mulai berdatangan tapi wajahnya tidak nampak hari itu. Kukira hari itu aku bisa melihatnya lagi, dan aku masih tidak tahu bagaimana cara untuk bisa tahu siapa namanya, karena aku hanya mengingat wajahnya. Meskipun coba untuk bertanya pada orang lain akan sulit menjelaskannya. Mulai saat itu sudah tidak lagi berusaha untuk mencari tahu, bukan menyerah hanya saja aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu, jika memang waktunya bertemu, maka kita akan dipertemukan meskipun kita nggak tahu kapan waktu itu datang.

Katanya otak manusia bisa menyimpan memori atau ingatan sekitar 2,5 petabyte tapi disini aku tidak bisa mengingat detail bagaimana aku akhirnya tahu siapa namanya. Secara samar-samar mungkin aku bisa ceritakan. Awalnya aku hanya tahu kalau dia adalah sepupu dari kakak kelasku, kita di satu organisasi yang sama, tapi aku tidak bisa bertanya begitu saja waktu itu. Terlalu malu untuk bertanya karena akan sangat terlihat maksud yang sebenernya, aku juga nggak punya alasan yang lebih masuk akal untuk bertanya. Pernah juga satu waktu aku tahu kakak perempuanku memiliki obrolan bersama dia disalah satu media sosial. Aku tidak tahu siapa yang sedang chat dengan kakakku awalnya, karena aku cukup penasaran dengan orang itu. Siapa sih orang yang lagi chat sama kakak perempuanku, sepengetahuanku kakak perempuanku sangat jarang berhubungan dengan laki-laki. akhirnya aku ceklah info profilnya, ternyata yang chat dengan kakaku adalah dia yang selama ini aku cari-cari. Tanpa pikir panjang aku add akun media sosialnya, dan taraaa... kita berteman di media sosial. Gimana happynya aku waktu itu, se happy happnya apalagi saat tahu kalau permintaan untuk berteman di sosmed mendapat persetujuan. Kakakku bisa kenal dengan dia karena mereka disatu ekstra yang sama, jadi wajar jika mereka saling berkomunikasi di media sosial. Meskipun sudah berteman di media sosial dengannya saat itu, tetap tidak bisa dekat begitu saja. Saat ada kegiatan ekstra aku berharap dia akan datang tapi lagi-lagi aku tidak pernah melihatnya. Hingga aku lulus sekolahpun belum juga bisa dekat dengannya. Mungkin ini waktunya untuk berhenti mencarinya, bahkan aktivitasnya di media sosial tidak begitu instens, sehingga sulit membuat alasan untuk sekedar say hello dan berkenalan.

Aku tidak pernah menceritakan bagaimana aku mencari dia pada siapapun, bahkan pada teman terdekat. Hingga satu moment, tiba-tiba aku dihubungi oleh salah satu teman organisasi bahwa akan ada rapat besar para purna semua organisasi, untuk membahas acara reuni akbar. Datanglah aku ke rapat itu, bersama dengan teman dekatku yang juga anak organisasi. Aku sedikit berharap saat itu dia akan datang mengikuti rapat, tapi aku patahkan sendiri harapan itu, karena sebelum-sebelumnya tidak pernah datang dalam kegiatan organisasi lalu apa yang akan membuat dia datang kali ini, sepertinya tidak ada. Jadi aku santai masuk ke dalam ruang rapat, para purna mulai berdatangan dan tanpa disangka orang yang selama ini hanya bisa aku lihat wajahnya melalui media sosial akhirnya bisa aku lihat langsung. Bagaimana perasaanku saat itu, begitu antusias tapi harus berusaha menyembunyikan ekspresi senang itu saat melihatnya. Pandanganku selalu berusaha ke arahnya tapi lagi-lagi aku harus menahannya. Dia membuat manusia ini kehilangan setengah kesadarannya, antara fokus rapat atau fokus melihat wajahnya, karena aku tahu mungkin kesempatan ini tidak akan pernah datang lagi.

Rapat akhirnya selesai, aku dan temanku pergi ke mushola untuk istirahat dan beribadah. Setelah itu aku berdiri dekat tembok, aku bisa melihat wajahnya lagi saat itu, melihat senyumnya, matanya. Kemudian aku putuskan untuk menceritakan tentang orang yang selama ini aku cari pada teman dekatku. Sambil melihatnya dari kejauhan, aku coba membuka suara. Belum juga aku keluarkan satu kata, teman dekatku tiba-tiba bercerita sambil menunjuk kearah dia (orang yang selama ini aku cari) "mas itu katanya suka sama aku" dia cerita panjang lebar, sedangkan aku cuma bisa terdiam. Seperti ada suara bip panjang ditelinga. Aku yang awalnya happy dan bernyali untuk cerita kembali surut ketika mendengar cerita temanku. Aku bisa paham jika dia memiliki perhatian lebih pada temanku, karena mereka satu organisasi dan temanku memang begitu cantik. Semakin tidak percaya diri untuk mendekatinya, karena dia sudah punya seseorang yang dia suka yaitu teman dekatku. Ini bukan patah yang pertama kalinya, bahkan aku belum mengenalnya secara pribadi tapi sudah dipatahkan lebih dulu. Mungkin keputusan untuk berhenti mencarinya saat itu adalah hal yang tepat. Hari itu senang juga sedih secara bersamaan. 

Kemudian setelah turun, aku bertemu dengan Mas Febri (leader IBLO) di dekat pintu gerbang, dia menawarkan aku untuk ikut nongkrong bareng. Awalnya aku nolak karena terlalu capek setelah tahu cerita temenku, hanya saja saat itu aku mikir "ini mungkin bisa jadi yang terakhir kali aku bisa lihat dia" dengan alasan itu, aku akhirnya mengiyakan ajakan mas Febri untuk ngopi di daerah jalan Semeru. Tempat ngopi yang cukup ramai dikunjungi saat itu. Ketika akan memasuki area tempat ngopi aku liat dia sedang menunggu seseorang, bahkan saat aku lihat kearahnya langsung, dia tidak melihatku. Hemm.. makin ciutlah aku. Jangankan untuk menyapa, sekedar menganggukkan kepala aja nggak bisa. Masuk ketempat ngopi, kita duduk berkumpul, hanya saja saat itu dia begitu jauh dari tempat aku duduk. Jadi lagi-lagi aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan itu sudah lebih dari cukup. Aku nggak bisa terlalu lama ada disana karena terlalu lama melihatnya buat aku juga makin sedih.

Mungkin seperti itu akhir dari my first sight, meskipun tidak bisa mengenalnya lebih dekat secara personal tapi Tuhan udah kasih kesempatan buat aku bisa lihat dia. Aku nggak tahu ini menjadi baik atau malah semakin buruk. Baiknya adalah akhirnya aku bisa lihat dia lagi, buruknya aku jadi tahu siapa orang yang saaat itu ada dihatinya. Bisa jadi aku terlalu terburu-buru untuk menjadikan dia orang yang spesial karena selama ini aku cari, sehingga takabur untuk menjadikan dia orang yang aku inginkan. Hai crush salam kenal dari aku, orang yang selama ini mencarimu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagian Kelima : Rela

Semakin mendekati hari H semakin komunikasi kita inten. Kita sama-sama tahu apa yang kita lakukan saat ini meskipun hanya chat, atau sekedar...