aku kira pertemuan di tempat ngopi itu adalah yang terakhir, ternyata Tuhan punya cara lain untuk mempertemukan manusia satu dengan yang lain. Meskipun bukan pertemuan tatap muka secara langsung, tapi melalui sebuah obrolan pada postingan teman di media sosial. Awalnya hanya saling membalas dengan kocak, hingga tidak terasa komentar di postingan mencapai 100 lebih obrolan. Jika memori ini tidak salah menyimpan, aku dan dia akhirnya memiliki obrolan secara personal. Perkenalan seperti biasa, dan aku tahu akan mengarah kemana obrolan kita saat itu. Tidak lain adalah tentang teman dekatku karena sejak obrolan personal itu, dia jadi tahu bahwa aku adalah teman dekat orang yang dia suka. Satu dua pertanyaan aku jawab, obrolan cukup panjang, dan tidak disangka dia meminta nomorku. Obrolan yang cukup panjang dan menyenangkan meskipun kurang nyaman buatku dengan konteks obrolannya. Paling tidak itu sudah lebih dari cukup, bahkan bonus dia simpan nomorku. Tidak lama dia menghubungiku dan dari sana kita mulai intens saling berkomunikasi.
Meskipun obrolan hanya tentang orang yang dia suka paling tidak hal itu yang membuat aku dan dia terhubung, agak menyedihkan sebenernya. Dia begitu dekat tapi masih terasa jauh, seringnya aku menahan rasa tidak nyaman saat dia mulai membicarakan temanku dengan begitu bahagia. Bukan aku tak bahagia untuknya tapi tidak bisa dipungkiri perasaan ini menolak untuk ikut bahagia. Aku sempat ingin menghindarinya, karena jika diteruskan aku tahu ini akan semakin sakit. Hanya saja saat itu aku tidak bisa menghindar begitu saja. Aku tahu saat itu temanku sudah memiliki orang lain yang disuka dan aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada dia. Aku hanya berusaha netral tanpa memihak pada siapapun, biar dia tahu dengan sendirinya. Aku tidak mau menjadi orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku memang menyukainya tapi sekalipun aku ingin perasaan ini dibalas bukan dengan cara yang licik.
Mulai saat itu aku dan dia menjadi semakin dekat, aku merasa bahwa aku tidak salah menjadikan dia orang yang aku suka, menjadikan dia orang yang punya tempat istimewa dihati ini. Setiap obrolan yang kita buat selalu terasa pas, nyambung, dan nyaman. Pernah satu waktu di kampus ada pertunjukan seni, aku coba ajak dia untuk datang, dan dia bersedia. Kita datang ke pertunjukan tersebut, akhirnya aku bisa sedekat ini dengannya. Duduk di sampingnya, dia melihat ke arah panggung sedangkan aku hanya asik melihat wajahnya, ini seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Meskipun tidak bisa selalu melihat wajahnya saat itu, tapi aku cukup senang dengan berada disampingnya. Andai waktu bisa dihentikan sebentar saja aku ingin merekam kejadian saat itu dan menyimpannya dalam folder khusus dan aku tandai dengan nama "special person". Momen berikutnya datang lagi, dimana malam itu aku sedang rapat kelompok untuk tugas kampus. Tiba- tiba ada pesan masuk darinya, tertulis bahwa dia bertanya apa aku sudah makan, jika belum dia ingin mengajakku untuk makan bersama. Mendapat pesan singkat dan pertanyaan seperti itu siapa yang tidak bahagia, dengan semangat aku balas pesan dan mengiyakan ajakannya. Dia bilang untuk bertemu di lesehan dekat bundaran DPR tepatnya di dekat warnet, ada sebuah warung nasi goreng yang sebelumnya sudah pernah dia ceritakan. Segera aku kesana, datang, duduk pas di sampingya. Setelah duduk dan pesanan datang aku nikmati sepiring nasi goreng hongkong yang dia pesan untukku, ternyata benar apa yang dia bilang nasi gorengnya enak. Entah karena memang mas yang jual pinter masak, atau karena orang disebelahku yang buat nasi gorengku jadi makin enak. Belum juga aku selesai makan, tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung plastik hitam. Sebuah kaos warna hitam dengan tulisan nama sebuah brand clothing yang jika satu huruf dibelakang dihilangkan maka akan menjadi nama orang yang dia suka. Aku yang awalnya antusias sekita mood drop, tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat itu. Aku ingin marah tapi tidak punya alasan yang masuk akal untuk marah. Aku hanya sedikit protes "ooo jadi karna ini aku disuruh kesini, hahaha, dapet aja" aku memang tertawa saat itu, tapi hanya untuk mengurangi kedongkolanku karena kaos itu. Nasi goreng yang aku pikir bisa habis, nyatanya nggak bisa lagi masuk ke mulut. Segera aku berpamitan karena alasan tugas kelompok yang lebih tepatnya karena aku kesal melihat barang yang dia bawa, tapi bagaimanapun juga aku nggak bisa salahin dia, karena dia tidak tahu bagaimana sebenarnya. Bisa jadi itu adalah momen yang paling menyebalkan selama aku kenal dia.
Bisa dekat dengannya dan segala keunikan, khayalan, pemikiran, mimpi yang dia punya buat aku semakin yakin bahwa aku tidak salah meletakan hati. Meskipun aku tahu dia tidak mudah digapai, atau memang bukan buat aku, tapi biarlah hari-hari berikutnya aku tetap bisa berada disampingnya. Pernah juga ada momen saat aku sedang sibuk mempersiapkan tugas kampus di sebuah gedung yang cukup dekat dengan tempat tinggalnya. Aku hanya bercanda saat itu, aku bilang padanya kalau dia bisa mendatangiku dan membawa makanan ringan. Tidak disangka dia benar datang dengan membawa dua kotak terang bulan mini. Saat itu aku di dalam gedung, seorang teman tiba-tiba memanggilku, katanya ada orang yang mencariku. Bergegas keluar gedung, aku melihatnya berdiri diluar dengan membawa bungkusan ditangannya, tersenyum dan menghampirinya dengan begitu malu, tidak enak karena bercandaanku dijadikan serius olehnya. Saat itu aku sangat senang, dia mendatangiku bahkan membawa makanan buat aku, bukan cuma buat aku tapi juga teman-temanku. Terima kasih mas, ini sangat berarti besar buat aku.
| Gedung lokasi dia membawa makanan |
aku yang berharap bisa terus ada di dekatnya lama-lama runtuh juga, aku semakin ciut karena dia masih membicarakan teman dekatku. Kuputuskan untuk tidak lagi menghubunginya, dan itu cukup lama. Dia yang tidak tahu alasan kenapa aku bersikap seperti itu, menjadi bingung dan berusaha menghubungiku melalui personal chat di media sosial. Pesan masuk awalnya aku enggan untuk menanggapi karena aku tahu akhirnya hanya akan seperti kemarin, hanya tentang orang yang dia suka sedangkan aku sudah tidak punya ruang untuk mendengarkan hal itu. Aku coba pikir ulang dan berkomunikasi kembali, dari sana semua dimulai. Kita berkomunikasi lagi, dia bercerita bahwa sepertinya sudah tidak ada kesempatan untuknya dengan teman dekatku, karena melihat sikap temanku yang tidak memberikan respon yang baik. Setelah aku dengar ceritanya, aku putuskan untuk berkata jujur, apa yang sebenarnya terjadi dengan sikapku sebelumnya. Aku ceritakan bagaimana awal aku melihatnya, apa yang aku rasakan ketika dulu dia tidak sadar dengan kehadiranku, tentang aku yang tidak nyaman ketika dia menceritakan temanku, dan selama apa aku berusaha mencarinya. Dia cukup terkejut dengan apa yang aku ceritakan saat itu, dia bilang kenapa aku tidak pernah menceritakan soal ini dari awal padanya. Sayangnya tidak semudah itu, aku bisa melihat bagaimana matanya saat menceritakan temanku dengan begitu antusias dan bahagia. Semenjak aku ceritakan semuanya, dia mulai berbeda, dan kita memiliki kedekatan yang berbeda juga dari sebelumnya tapi lebih ke hal yang baik.
Itu bukan pengakuan cinta yang sebenarnya, aku hanya ingin dia tahu bagaimana dia dimataku, aku ingin dia tahu bahwa selama ini aku mencarinya dan itu cukup buat aku. Pengakuan mungkin cara untuk kita jujur, bukan untuk orang lain tapi lebih untuk diri sendiri. Aku percaya kalau kita bisa jujur dengan apa yang kita rasakan, kita akan tahu baiknya dibawa kemana perasaan ini. Sekalipun hal itu adalah sebuah keputusan yang menyakitkan, paling tidak kita sudah berusaha dan berani menunjukan perasaan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar